Facebook

Sabtu, 11 Juli 2015

Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian Anak Usia Dini

Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian Anak Usia Dini

Desmita (2011:187-188) memaparkan tingkatan dan karakteristik kemandirian berdasarkan pendapat Lovinger kedalam enam tingkatan sebagai berikut. Tingkatan pertama adalah tingkat impulsif dan melindungi diri. ciri-cirinya antara lain: peduli terhadap kontrol dan kauntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain; mengikuti aturan secara spontanistik; berpikir tidak logis dan tertegun pada cara berpikir tertentu; dan cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.


Pada tingkatan pertama ini menunjukkan bahwa seseorang yang mandiri akan bersifat melindungi dirinya sendiri, baik itu dari segi pemikiran maupun tindakan. Sehingga jika anak telah bisa mengelak atau melindungi diri mereka sendiri maka mereka bisa digolongkan telah mandiri pada tingkatan pertama.


Tingkat kedua adalah tingkat konformistik. Ciri-cirinya: peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial; cenderung berpikir tertentu dan klise; peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal, bertindak dengan motif dangkal untuk memperoleh pujian; menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan takut tidak diterima kelompok; tidak sensitif terhadap keindividuan; dan merasa berdosa jika melanggar aturan. Saat usia dii mulai memperhatikan penampilan diri mereka berarti sudah dapat digolongkan pada tingkat yang kedua ini.


Tingkat ketiga adalah tingkat sadar diri. Ciri-cirinya mampu berpikir alternatif, melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi, peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, menekankan pada pentingnya pemecahan masalah, memikirkan cara hidup, dan penyesuaian terhadap situasi peranan. Jika pada saat anak sudah mulai memikirkan bagaimana cara berpikir untuk menjalani hidup maka anak tersebut dapat digolongkan dalam tingkat ketiga ini.


Tingkatan keempat adalah tingkatan saksama (conscientious). Ciri-cirinya antara lain: bertindak atas dasar nilai-nilai internal, mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan; mampu melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri sendiri maupun orang lain, sadar akan tanggung jawab mampu melakukan kritik dan penilaian diri; peduli akan hubungan mutualistik, memiliki tujuan jangka panjang, cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial, dan berpikir lebih kompleks atas dasar pola analistis. Setelah anak mampu menentukan dan mengambil keputusan dengan cara setelah melakukan analitis terlebih dahulu maka anak tersebut sudah berada pada tingkatan keempat. Tingkatan kelima adalah tingkatan individualitas. Ciri-cirinya: peningkatan kesadaran individualitas, kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dan ketergantungan, menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain, mengenal eksistensi perbedaan individual, membedakan kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya, mengenal kompleksitas diri, dan peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.


Tingkatan kelima dalam kemandirian merupakan tingkatan individualitas dimana seseorang atau anak memiliki kesadaran untuk tidak bergantung pada orang lain dan lebih toleran terhadap diri sendiri maupun orang lain dalam hal masalah sosial ataupun hal yang lainnya. Tingkatan keenam adalah tingkatan mandiri. Ciri-cirinya antara lain: memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan, cenderung bersikap realistik dan obyektif terhadap diri sendiri dan orang lain, peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan sosial, mempu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan, peduli akan pemenuhan diri (self-fulfilment), ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal, responsif terhadap kemandirian orang lain, sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain, dan mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.


Tingkat keenam merupakan tingkatan yang terakhir dalam kemandirian yaitu saat anak telah memiliki pandangan hidup secara keseluruhan dan cenderung bersifat realistik

Faktor-Faktor Kemandirian

Faktor-Faktor Kemandirian Kemandirian pada anak muncul tanpa selalu dapat diprediksi melalui usia, namun dapat dilihat ketika anak sudah mulai memiliki keinginan sendiri, atau dengan kata lain tingkatan usia tidak mesti berpengaruh terhadap kemandirian anak. Ada anak yang usianya sudah beranjak dewasa atau bahkan sudah dewasa masih belum memiliki sikap mandiri. .Namun adapula anak yang usianya masih sangat dini sudah memiliki sikap yang mandiri. Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, kemandirian juga bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai individu sejak lahir Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Terdapat sejumlah faktor yang sering disebutkan sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian yaitu sebagai berikut: (Ali, 2006:118)

  1. Gen atau keturunan orang tua. Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak dengan sifat mandiri juga. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena adanya pendapat bahwa sesungguhnya bukan karena sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan karena sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tuanya mendidik anaknya 
  2. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan disekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat kemandirian anak. Demikian juga dengan, proses pendidikan yang menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman juga dapat menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar kemandirian anak. 
  3. Sistem kehidupan dimasyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hirarki struktur sosial kurang menghargai potensi anak dalam kegiatan produktif dapat menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu hirarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian anak. Menurut Markum (1985) 
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kemampuan berdiri sendiri / mandiri pada anak adalah:
a. Kebiasaan serba dibantu atau dilayani, misalnya orang tua selalu melayani keperluan anaknya, seperti mengerjakan rumahnya (PR), hal ini akan membuat anak manja dan tidak mau berusaha sendiri, sehingga anak menjadi tidak mandiri.
b. Sikap orang tua, misalnya orang tua yang selalu memanjakan dan memuji anaknya akan menghambat kemandirian. Karena memanja dan memuji yang terlalu berlebihan dapat membuat keinginan dan psikologi anak berkembang kurang baik begitu pula dengan kemandiriannya. Kurangnya kegiatan diluar rumah, misalnya anak tidak mempunyai kegiatan dengan teman-temannya, hal ini akan membuat anak bosan sehingga ia menjadi malas dan tidak kreatif serta mandiri.
c.  Kurangnya kegiatan diluar rumah, misalnya anak tidak mempunyai kegiatan dengan teman-temannya, hal ini akan membuat anak bosan sehingga ia menjadi malas dan tidak kreatif serta mandiri.

Jumat, 16 Januari 2015

Pengertian Anak Usia Dini

Pengertian Anak Usia Dini
Terdapat berbagai definisi mengenai anak usia dini. menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 14 yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untruk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia nol sampai 6 atau 8 tahun yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Sedangkan hakikat anak usia dini Menurut Mansur (2005: 88) anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa anak usia dini dapat disebut juga dengan istilah “golden age” atau masa emas, karena pada masa-masa (usia 0-6 tahum) ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat. Perkembangan untuk setiap anak tidak dapat disamakan antara individu yang satu dengan individu yang lain, karena setiap individu memiliki masa perkembangan yang berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan oleh makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang baik bagi anak usia dini. Apabila anak usia dini diberikan stimulasi yang baik dan secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik

Rabu, 29 Oktober 2014

Jenis Pola Asuh Orang Tua

Jenis Pola Asuh Orang Tua
Jenis-jenis pola asuh terdapat tiga golongan yakni pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisif. Ketiga jenis pola asuh orang tua merupakan pola pengasuhan orang tua terhadap anak, dimana setiap keluarga memungkinkan memiliki pola asuh yang berbeda-beda Untuk penjabaran masing-masing pola asuh yaitu: 1. Pola Asuh Otoriter Menurut Agus Dariyo, ciri-ciri dari pola asuh ini menekankan segala aturan orang tua harus ditaati olah anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menaati dan tidak boleh membantah apa yang diperintahkan oleh orang tua. Pola asuh otoratif hanya mengenal hukuman dan pujian dalam berinteraksi dengan anak. Menurut Hourlock dalam buku Chabib Thoha, mengemukakan pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak untuk berperilaku seperti dirinya (Orang Tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan bertukan pikiran dengan orang tua, orang tua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimmbangkan dengan anak. Pola asuh yang bersifat otoriter juga ditandai dengan penggunaan hukuman keras, lebih banyak menngunakan hukuman fisik, anak juga diatur dari segala keperluan dengan aturan yang ketat dan masih tetap diberlakukan meskipun anak sudah usia dewasa. Anak yang dibesarkan dalam suasana seperti ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak sanggup mengambil keputusan tentang apa saja. 2. Pola Asuh Demokratis Menurut Agus Dariyo dalam pola asuh ini kedudukan antara anak dan orang tua sejajar. Suatu keputusan diambil bersama anak dengan memperimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk memepertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini adalah anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain,bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif dari pola asuh ini adalah anak akan cenderung bergantung pada kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua. Menurut hourlock dalam Chabib Thoha, mengemukakan bahwa pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua. Orang tua sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya. Menurut Agus Dariyo terdapat pola asuh yang lain selain pola asuh di atas yaitu pola asuh situasional, dalam pola asuh ini orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh tertentu saja. Akan tetapi kemungkinan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. 3. Pola Asuh Permisif Pola asuh permisif adalah suatu pola asuh orang tua dimana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan sang anak (Amaliyah, 2006). “Dalam golongan ini orang tua bersikap demokratis dan penuh kasih sayang. Namun, disisi lain kendali orang tua dan tuntutan berprestasi terhadap anak itu rendah. Anak dibiarkan berbuat sesukanya tanpa beban kewajiban atau target apapun.” (Markum, 2000) Menurut Agus Dariyo sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala sessuatu yang diinginkan anak. Anak cenderung bersikap semena-mena, tanpa pengawasan orang tua. Anak bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak menjadi kurang mandiri dengan aturan –aturan sosial yang berlaku. Namun apabila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang yang mandir, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya. Menurut tembong Prasetya pola asuh ini hampir sama dengan pola asuh yang dikemukakannya yaitu pola asuh penyabar atau pemanja. Pola pengasuhan ini orang tua tidak mengendalikan perilaku anak sesuai dengan kebutuhan perkembangan kepribadian anak, serta tidak pernah menegur atau tidak berani menegur anak. Anak dengan pola pengsuhan ini cenderung lebih energik dan responsif dibandingkan dengan anak dengan pola asuh otoriter, namun mereka tampak kurang matang secara sosial (manja), mementingkan diri sendiri dan kurang percaya diri. Dari beberapa uraian pendapat para ahli diatas mengenai pola asuh orang tua dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga pola asuh yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisf(bebas). Dari ketiga pola asuh orang tua tersebut, ada kecenderungan bahwa pola asuh demokratis dinilai paling baik dibandingkan dengan bentuk pola asuh yang lain. Namun demikian, dalam pola asuh demokratis bukan merupakan pola asuh yang sempurna, sebab bagaimanapun juga terdapat hal yang bersifat situasional seperti yang diungkapkan oleh Agus Dariyo, bahwa tidak ada orang tua dalam mengasuh anaknya hanya menggunakan satu pola asuh dalam mendidik anak dan mengasuh anaknya. Dengan demikian, ada kecenderungan bahwa tidak ada bentuk pola asuh yang murni diterapkan oleh orang tua, akan tetapi orang tua dapat menggunakan ketiga bentuk tersebut dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu pada anak.

Konsep Pola Asuh Orang Tua Menurut Ahli

  • Konsep Pola Asuh Orang Tua 
Banyak ahli psikologi dan sosiologi yang merumuskan pengertian dari pola asuh orang tua menurut cara pandang mereka masing-masing. Adapun definisi pola asuh orang tua menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut “Pola asuh adalah gambaran yang dipakai oleh orang tua untuk mengasuh (merawat, menjaga, atau mendidik) anak.” (Singgih D. Gunarsa, 1991:108-109) 
 “Pola asuh orang tua adalah suatau cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak.” (Chabib Thoha, 1996:109) 
 “Pola asuh orang tua merupakan perlakuan orang tua dalam interaksi yang meliputi orang tua menunjukkan kekuasaan dan cara orang tua memperhatikan kenginginan anak. Kekuasaan atau cara yang digunakan orang tua cenderung mengarah pada pola asuh yang diterapkan.” (Singgih D. Gunarso, 2000:55)

 Orang tua (yaitu ayah dan ibu) merupakan orang yang bertanggung jawab kepada seluruh anggota keluarga. Orang tua juga menetukan kemana keluarga akan dibawa dan apa yang harus diberikan sebelum anak-anak dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri, saat anak masih bergantung dan sangat memerlukan bekal dari orang tuanya sehingga orang tua harus memberi bekal yang layak kepada anaknya tersebut. Keluarga merupakan tempat untuk pertama kalinya seorang anak memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai maupun aturan-aturan yang harus diikutinya yang mendasari anak untuk melakukan hubungan sosial dengan lingkungan yang lebih luas. Namun dengan adanya perbedaan latar belakang, pengalaman, pendidikan, dan kepentingan dari orang tua maka terjadilah cara mendidik anak. “Pola asuh adalah gambaran yang dipakai oleh orang tua untuk mengasuh (merawat, menjaga atau mendidik) anak”. (Singgih:2003). Sementara menurut Chabib Thoha, yang mengemukakan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah cara atau metode yang ditempuh orang tua dalam mengasuh dan menerapkan kemandirian kepada anaknya dengan tujuan membentuk watak, kepribadian, dan memberikan nilai-nilai bagi anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam memberikan aturan-aturan atau nilai terhadap anak-anaknya setiap orang tua akan memberikan bentuk pola asuh yang berbeda berdasarkan latar belakang pengasuhan orang tua sendiri sehingga akan menghasilkan bermacam-macam pola asuh yang berbeda.

Jumat, 23 Agustus 2013

Kebiasaan Paling Destruktif yang Mungkin Anda Miliki yang Harus Segera Diatasi!

Kebiasaan DestruktifBeberapa waktu yang lalu, seorang ibu datang ke klinik saya untuk berkonsultasi dan mengeluhkan dirinya yang merasa tidak berkembang dan merasa hidupnya ‘gitu-gitu’ saja. Setelah interview awal dan penelusuran lebih jauh ternyata ditemukan bahwa ibu ini ternyata memiliki sebuah kebiasaan destruktif (bersifat merusak) yang sudah sedemikian parahnya sehingga menyebabkan sabotase kesuksesannya sendiri. Kebiasaan ini tampaknya sepele tetapi statistik dan riset menunjukkan bahwa banyak sekali orang tidak berhasil mencapai prestasi tinggi, memiliki kesehatan prima dan kebahagiaan karena memiliki kebiasaan destruktif yang bersifat merusak ini. Apa kebiasaan destruktif yang saya maksud yang dimiliki si ibu ini? Kebiasaan ini adalah kebiasaan suka melakukan penundaan atau suka menunda-nunda dalam mengerjakan segala sesuatu. Kembali ke cerita si ibu tadi, awalnya dia beralasan bahwa dia sering melakukan penundaan karena merasa ada tugas yang lebih penting yang harus diselesaikan. Dia merasa bahwa akan bisa melaksanakan pekerjaan yang ditundanya tadi Memang pada akhirnya ia bisa melaksanakan tugas yang ditundanya, tetapi pada detik akhir dari batas waktu yang ada. Tetapi yang kemudian terjadi adalah seperti sebuah ungkapan : “Pola Pikir membentuk Kebiasaan. Kebiasaan membentuk Karakter. Karakter membentuk Nasib. Nasib menguatkan Pola Pikir kembali.” Demikianlah yang terjadi pada kasus ibu tersebut di atas. Awalnya ia menunda hal-hal kecil namun akhirnya tanpa disadarinya kebiasaan menunda tersebut berkembang makin parah dan makin luas secara perlahan-lahan. Awalnya hanya menunda pembayaran rekening bulanan seperti tagihan listrik, tagihan air dan tagihan kartu kredit sampai pada batas terakhir. Kemudian hal tersebut berlanjut pada keterlambatan pembayaran selama 1-2 hari dari tagihan-tagihan tersebut. Ia pun mulai menggunakan berbagai cara untuk mengingatkan seperti memasang alarm pengingat di smart phonenya. Namun setiap kali alarm berbunyi untuk mengingatkan pembayaran ia menundanya hingga akhirnya terlambat lagi dan terkena denda lagi. Dan akhirnya ia menggunakan metode pembayaran otomatis dari rekening kartu kreditnya. Problem pembayaran tagihan selesai! Apakah dengan demikian kebiasaan menundanya sembuh? Tidak semudah itu! Ia mulai memerhatikan ternyata ia banyak menunda-nunda melakukan olahraga dan diet sehat yang harusnya ia tempuh demi menjaga kesehatannya. Ia sadar bahwa rapor kesehatannya jelek. Dan ia tak mau tergantung obat-obatan kimia. Karena itu ia mulai memelajari pola makan sehat dan jenis olah raga yang cocok untuk dirinya. Setelah belajar dia semangat namun penerapannya tak kunjung tiba. Ia masih merasa sehat dan masih bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Dan medical check up yang tadinya lancar sekarang pun mulai ditundanya juga. Karena ia takut melihat hasilnya yang bisa memaksa dia untuk melaksanakan diet dan olahraga. Apakah masalahnya teratasi? Untuk sementara masalah yang sebenarnya masih terpendam. Namun ingatlah bahwa masalah penundaan adalah seperti memasang bom waktu yang tidak diketahui kapan akan meledak. Suatu pagi ia bangun dan merasakan tangannya kesemutan dan kaki kirinya sulit untuk digerakkan. Ia tahu bahwa kadar asam uratnya sudah begitu membahayakan dan mulai unjuk gigi. Ia segera berteriak memanggil anaknya untuk minta obat dan buru-buru meminumnya. Ia sadar bahwa inilah saatnya bertindak dan bahwa Tuhan telah mengirimkan peringatan untuk dirinya untuk segera mengubah pola makan dan olahraga. Beberapa hari kemudian saat kondisi dirinya membaik karena minum obat dan menghindari makanan tertentu ia mulai beraktivitas dan melupakan komitmennya untuk berolahraga dan mengubah pola makan. Ia berpikir bahwa semuanya masih bisa dikendalikan. Namun tanpa ia sadari monster di dalam dirinya perlahan tapi pasti berkembang menjadi makin besar. Apakah penundaan yang ia lakukan hanya terjadi di aspek kesehatan saja? Ternyata tidak! Kebiasaan menunda ini benar-benar menjadi bagian karakter dirinya. Pekerjaan kantornya seringkali harus melewati batas waktu yang ditentukan. Akibatnya adalah pekerjaan tersebut diselesaikan dengan asal-asalan karena sudah kehabisan waktu untuk dikerjakan dengan sempurna. Atasannya sudah memeringatkannya untuk bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Namun hebatnya pikiran bawah sadarnya masih bisa mengatakan bahwa “everything is under control”. Itulah mekanisme pembelaan diri atau pembenaran diri. Banyak orang terjebak dalam mekanisme tersebut. Hal itu bisa terjadi karena manusia adalah mahluk yang mudah mentoleransi dirinya sendiri. Karena terlalu mudah mentoleransi akhirnya pada suatu hari di ujung jalan ia menyadari telah melenceng dari arah yang ia rencanakan. Banyak orang menyadari masalah setelah masalah tersebut telah menjadi besar. Sumber :http://www.ariesandi.com/personal-success/kebiasaan-paling-destruktif-yang-mungkin-anda-miliki-yang-harus-segera-diatasi/

8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya

8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya Now or LaterIni adalah lanjutan dari artikel “Kebiasaan Paling Destruktif yang Mungkin Anda Miliki yang Harus Segera Diatasi!” Di artikel tersebut saya membahas kasus seorang ibu yang merasa tidak berkembang dan menderita akibat kebiasaan destruktif yang dimiliki yaitu suka menunda-nunda yang sudah di level parah. Di artikel kali ini saya akan membahas tentang 8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya. Tidaklah mudah menghilangkan sebuah kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi sebuah karakter. Karena seperti sebuah ungkapan bijaksana yang saya sebutkan di artikel pertama tersebut bahwa : 8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya Now or LaterIni adalah lanjutan dari artikel “Kebiasaan Paling Destruktif yang Mungkin Anda Miliki yang Harus Segera Diatasi!” Di artikel tersebut saya membahas kasus seorang ibu yang merasa tidak berkembang dan menderita akibat kebiasaan destruktif yang dimiliki yaitu suka menunda-nunda yang sudah di level parah. Di artikel kali ini saya akan membahas tentang 8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya. Tidaklah mudah menghilangkan sebuah kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi sebuah karakter. Karena seperti sebuah ungkapan bijaksana yang saya sebutkan di artikel pertama tersebut bahwa : “Pola Pikir membentuk Kebiasaan. Kebiasaan membentuk Karakter. Karakter membentuk Nasib. Nasib menguatkan Pola Pikir kembali.” Kisah tentang ibu yang saya ceritakan sebelumnya hanyalah satu dari sekian banyak kasus permasalahan yang bersumber dari penundaan. Penundaan adalah sebuah problem yang dialami banyak orang. Beberapa orang menyadarinya, sementara lainnya tidak menyadari kalau ia punya masalah tersebut. Yang biasanya lebih menyadari adalah orang di sekitarnya yang menjadi korban dari penundaan yang terjadi ☺ Dampak dari kebiasaan menunda-nunda bisa menyebabkan seseorang kehilangan peluang emas, tekanan mental atau stress, pekerjaan yang menumpuk dan membingungkan, perasaan bersalah, kesedihan dan kekecewaan pada diri sendiri serta penyesalan yang mendalam. Apakah Anda ingin mengalami hal-hal tidak enak ini? Tentu saja tidak bukan? ☺ Mengapa kebiasaan penundaan bisa terjadi dan bagaimana melepaskan diri dari kebiasaan buruk ini? Jika Anda memiliki kebiasaan menunda-nunda, coba cek dan pelajari, mana yang kira-kira diantara 8 penyebab yang dibahas berikut ini yang jadi penyebab dari masalah penundaan Anda. Kadang mengetahui penyebab dari masalah penundaan sudah akan membuat Anda jadi bisa menentukan strategi untuk mengatasi kebiasaan ini. Kebiasaan menunda bisa terpicu melalui berbagai cara dan kejadian. Jadi saat Anda menunda melakukan sesuatu, sebabnya bisa berbeda. Terkadang Anda menunda karena bingung dengan tumpukan pekerjaan yang banyak, namun di lain saat Anda bisa menunda karena stress atau mungkin juga karena pengalaman buruk masa lalu atau karena ingin melarikan diri dari sebuah pekerjaan. Nah marilah kita mengeksplorasi sebab-sebab penundaan yang paling sering muncul dan cara sederhana untuk mengatasinya: 1. Stres Saat seseorang stres, kuatir, cemas atau gelisah maka sangatlah susah untuk bisa bekerja dengan produktif. Dalam situasi tersebut menunda sering kali menjadi salah satu pilihan yang sering diambil. Namun ini bukanlah cara yang bijak mengingat hal tersebut hanyalah bersifat sementara. Menunda hanyalah menghilangkan sementara stres namun ia tidak menyelesaikan masalah dan juga malah membuat pekerjaan menumpuk. Cara yang bijak adalah menghilangkan penyebab stres atau paling tidak menurunkan kadarnya kalau memang belum bisa dihilangkan secara total. Jika belum bisa dihilangkan secara total cobalah sediakan waktu untuk menyenangkan bagi Anda seperti pergi ke pantai, nonton bioskop, membaca buku, bersepeda, berenang, memancing, atau melakukan kegiatan yang merupakan hobi adalah salah satu untuk menyeimbangkan emosi Anda. 2. Terjebak dalam tumpukan tugas dan jadwal Terkadang dalam satu waktu Anda mungkin memiliki tugas lebih banyak dari waktu yang tersedia sehingga tiba-tiba saja Anda merasakan kekurangan waktu untuk menyelesaikan tumpukan tugas yang makin lama makin bertambah. Akhirnya Anda merasa terjebak dalam tumpukan jadwal dan tugas yang seakan tiada akhir. Dalam situasi seperti ini, secara logika mungkin kita berpikir apa bukannya jadi tambah fokus dan semangat kerjanya agar bisa menyelesaikan tumpukan pekerjaan? Ternyata tidak semua orang seperti itu. Kadang melakukan penundaan menjadi reaksi yang yang tidak Anda sadari. Anda tidak bermaksud menunda sebenarnya tetapi toh itu terjadi. Dalam situasi seperti ini maka kadang penyelesaiannya yang sederhana adalah : Menghilangkan hal-hal yang ingin dilakukan yang sebenarnya kurang bernilai untuk dilakukan. Mendelegasikan beberapa tugas, dan Menegosiasikan kembali batas waktu dari pekerjaan 3. Rasa malas Terkadang seseorang menunda karena terlalu letih secara fisik dan emosi. Akibatnya kita mengambil waktu untuk istirahat sejenak. Dan disinilah jebakannya. Ketika kita berhenti maka kecenderungan untuk bergerak lagi menjadi makin berat karena hukum fisika menunjukkan bahwa sebuah benda yang berhenti cenderung lebih berat bergerak lagi daripada kalau benda tersebut sudah bergerak walaupun perlahan. Akibatnya adalah munculnya rasa malas untuk bertindak menyelesaikan suatu tugas. Ketika rasa malas muncul maka makin beratlah untuk memulai sesuatu karena telah berada di zona nyaman. Bagaimana mengatasinya? Bergeraklah! Bangkitlah dari Kursi Anda! Lakukan olahraga kecil, lakukan tindakan kecil. Jangan biarkan diri Anda diam tak melakukan apapun! Ingatlah bahwa seseorang dengan tubuh yang bugar lebih mampu mengatasi berbagai rintangan dalam sebuah pekerjaan. 4. Kurangnya motivasi Kita semua pernah mengalami sedikit rasa malas dan ogah-ogahan. Hal itu wajar jika dalam kadar sedikit dan tidak sampai membuat kita menunda-nunda. Namun jika Anda memiliki motivasi rendah dan merasa bahwa yang Anda kerjakan membosankan serta kurang bisa memuaskan batin walau mungkin uangnya banyak maka hal ini harus segera diatasi. Selama motivasi Anda masih rendah maka Anda akan memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan. Jadi solusinya bisa dengan mencari manfaat/keuntungan yang bisa membuat Anda termotivasi untuk melakukan hal yang diperlukan. Atau Anda harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya bisa membuat Anda merasa berharga, berguna , dan bergairah dalam hidup ini. Temukan tujuan hidup Anda dan pekerjaan apa yang bisa memenuhi hal itu. 5. Kurangnya disiplin Walaupun motivasi kita tinggi namun seringkali kita tetap masih harus mengerjakan tugas yang kita kurang sukai namun diperlukan. Dalam situasi seperti ini maka disiplin diri memegang peranan penting sebagai pendukung motivasi diri. Jika disiplin kita rendah maka penundaan akan menyelinap masuk dan menguasai diri kita. Oleh karena itu Anda harus benar-benar meniatkan diri untuk menyelesaikan tugas, tidak peduli apakah itu menyenangkan atau tidak. Tanamkan dalam diri Anda bahwa justru hal-hal tidak enaklah yang akan membuat Anda sukses. Memang mudah mengerjakan hal-hal yang kita suka namun kesuksesan seringkali menuntut kita harus mengerjakan hal yang kita kurang sukai namun diperlukan untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. 6. Buruknya manajemen diri karena kebiasaan buruk. Apakah Anda pernah terlambat menghadiri rapat karena bangun kesiangan? Ini adalah salah satu contoh kebiasaan buruk yang menandakan jeleknya manajemen diri. Hal ini bisa mengakibatkan kita menunda pekerjaan karena waktu yang kacau membuat kita harus mendahulukan pekerjaan yang sudah didepan mata sehingga akhirnya mengorbankan pekerjaan lain yang sudah kita rencanakan. Akibatnya penundaan kecil semacam ini bisa menyebabkan tertumpuknya suatu tugas. Dan saat tugas-tugas itu jatuh tempo secara bersamaan maka kita akhirnya merasakan kekurangan waktu. Padahal itu dikarenakan penundaan kecil yang sering kita lakukan dan manajemen diri yang buruk. 7. Kurangnya keterampilan yang dibutuhkan. Seseorang juga mungkin menunda-nunda karena ketidakmampuan secara teknis. Kurangnya keterampilan ataupun pengetahuan yang dibutuhkan membuat seseorang segan dan ragu untuk memulai sesuatu. Jika Anda menyadari hal ini maka segera cari buku, training atau kursus singkat yang bisa menutupi kekurangan ini. Atau Anda delegasikan tugas tersebut. 8. Perfeksionis Salah satu sebab penundaan yang cukup sering adalah ingin perfeksionis yaitu keinginan untuk melakukan segala sesuatu setelah semuanya sempurna yang akhirnya membuat kita menunda melakukan rencana-rencana kita untuk menunggu ‘waktu yang tepat’. Ingatlah bahwa tidak ada yang sempurna karena segala sesuatu pasti bisa dibuat lebih baik. Kesempurnaan adalah resep utama untuk stres!! Berikan ijin pada diri Anda untuk mentoleransi beberapa kesalahan dan jadilah manusia normal ☺ Itulah 8 penyebab yang paling sering menyebabkan seseorang melakukan penundaan. Apakah ada penyebab lain? Tentu saja!! Saya hanya membahas penyebab-penyebab yang paling umum yang biasanya terjadi pada banyak orang saja. Nah sebelum saya menjelaskan tentang solusi atau teknik yang saya lakukan kepada klien-klien yang mengalami masalah penundaan, ada satu hal yang saya rasa Anda ingin tahu, apa itu? Anda tentu ingin tahu kalau di masalah penundaan ini, Anda berada di level apa? Lho penundaan pun ada levelnya? Oh ya jelas ada!! ☺ Ada “Level yang Parah”, “Level Sedang” atau “Level Rendah”. Dimanakah Anda? Nah untuk mendeteksi hal tersebut, saya sudah membuat sebuah Kuesioner “Deteksi Tingkat Penundaan Anda” dimana Anda nanti tinggal mengisi kuesioner (menjawab pertanyaan yang diajukan) maka setelah itu Anda akan mendapat hasil analisa tentang di level apa Anda berada untuk masalah penundaan dan Anda juga mendapat penjelasan lebih detil tentang level Anda ini. Saya awalnya ingin membebankan biaya untuk melakukan tes/kuesioner ini, tetapi akhirnya saya berubah pikiran dan akan saya berikan secara GRATIS!! Tunggu kabar saya via email (jika Anda sudah subscribe di Ariesandi.com) atau di Facebook.com/AriesandiCht tentang cara mengakses Kuesioner “Deteksi Tingkat Penundaan Anda” yang akan siap dalam beberapa hari ke depan. Sambil menunggu kuesioner tersebut diaktifkan, saya ingin tahu dari 8 penyebab itu, kira-kira mana yang sering menjadi penyebab saat Anda menunda melakukan sesuatu? Tolong tuliskan di bagian comment/komentar di bawah ini. Saya membaca setiap comment yang masuk. Dan tak lupa, jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong LIKE atau TWEET di tombol di pinggir kiri website ini. Semoga pembahasan di artikel ini bisa bermanfaat besar bagi Anda dalam meraih kesuksesan, kesehatan dan kebahagiaan Anda.

Senin, 08 April 2013

Kekasih Ketahuan Selingkuh di Media Sosial, Harus Bagaimana?

 

Jakarta - Banyak wanita yang langsung emosi dan menuduh pasangan saat mengetahui si dia selingkuh melalui akun media sosialnya. Entah berupa message yang lupa dihapus atau history chat dengan wanita lain. Hal ini tentu membuat Anda sangat marah. Namun sebaiknya tidak langsung melabraknya tapi gunakan cara halus untuk mengonfirmasi 'temuan' Anda di akun pribadinya.... Selengkapnya

Minggu, 07 April 2013

Bermain dan Arti Pentingnya Bermain

Bermain dan Arti Pentingnya Bermain dapat di Download di Sini
Bermain merupakan kegiatan eksplorasi diri dan sebagai salah satu cara bagi anak untuk belajar.... Read More